Kata Bijak Dalam Peribahasa ‘Makan Asam Garam Kehidupan’


Menggali kata bijak yang terkandung dalam peribahasa 'makan asam garam kehidupan'

Kata bijak
itu berbunyi ‘makan asam garam kehidupan’. Artinya adalah seseorang, biasanya karena lebih tua atau dianggap lebih matang, telah mengalami dan menghadapi suka duka dunia sedemikian sehingga ia telah mengerti arti penderitaan, kebahagian, cinta bahkan kematian. Sosok seperti ini menjadi tempat meminta nasehat dan petuah. Tidak jarang pula kita memperlakukan pandangan dan pertimbangan dia sebagai kata mutiara berkilau indah.

Sangat jarang kita akan mengatakan peribahasa yang sama kepada seseorang yang masih muda apalagi perilakunya belum menampakkan kedewasaan menurut standar sosial umumnya. Sejumlah profesi atau peran sosial kerap diasosiasikan dengan kematangan pribadi seperti orang tua, ulama, pendidik, terapis ataupun tenaga medis seperti dokter maupun perawat.

Tidak salah memang. Orang-orang di atas memang mengandaikan adanya pertumbuhan sebagai pribagi yang utuh mengingat pekerjaan dan fungsi-fungsi sosial yang mereka emban erat kaitannya dengan pertumbuhan dan pemulihan seseorang baik secara fisik, kejiwaan maupun sosial-spiritual. Bayangkan saja apa jadinya bila seorang masih usia sekolah harus menjadi orang tua. Tentu saja segala hal mungkin di bawah langit namun di atas kertas, sangat mungin kelabilan mentalnya akan memengaruhi cara dia mengasuh dan membesarkan anak.

Kata bijak yang dikristalisasikan dalam peribahasa indah di atas memang bukan tanpa alasan. Ia memiliki basis kisah nyata tumbuh kembang anak.

Manusia adalah mahluk yang berbeda dari berbagai mahluk lainnya. Sapi begitu lahir langsung bisa berjalan bahkan berlari. Anjing yang matanya masih belum terbuka hingga beberapa minggu sesusah kelahiran sanggup mencari puting induk dan bergerak ke seantero ruang sekitarnya.
Anak manusia berbeda. Ketika lahir, seorang bayi yang kerap dianggap lucu menggemaskan justru begitu tak berdaya. Tubuhnya ringkih, perasaannya rapuh. Dia tidak mengenal dunia maha luas yang telah merenggut dirinya dari rahim ibunda. Rahim yang damai, tenang dan penuh asupan makanan mendadak ‘menolak’ kehadirannya. Dorongan demi dorongan memaksa tubuh telanjang mungil itu keluar dari tempat yang pas dan nyaman selama sembilan bulan.

Ada sejumlah berkas traumatis yang dialami bayu baru lahir. Rahim lembut dan lunak kini berganti ruangan melahirkan yang riuh dengan suara-suara aneh yang tidak dikenal asal dan maknanya. Anak manusia terlahir bukan untuk menguasai dunia namun belajar menguasai dirinya.

Anak manusia mutlak membutuhkan orang tua. Bayi baru lahir begitu pasrah dalam dekapan tangan-tangan bunda mengelus dan mendekap hangat ke dada yang memberinya nutrisi dan aman paripurna. Dan untuk pertama kalinya, ia mengenal cinta dalam kata-kata senandung bunda, belaian kasih dan aliran ASI melegakan.

Kata bijak berdenting cantik di titik ini. Fase-fase pertumbuhan seseorang mengandaikan adalah pematangan di tiap pentahapan baik fisik, pikiran, perasaan dan sosial-spiritual. Maka sebenarnya, peribahasa ‘sudah banyak makan asam garam kehidupan’ justru kerap mengalami pendangkalan makna. Tidak boleh, sesekali tidak boleh, bahwa ia hanya dipahami sebagai senioritas ataupun kematangan oleh profesi. Ia wajib melampaui pemaknaan sehari-hari. Ia sesungguhnya adalah untaian kata mutiara cinta dalam kehidupan setiap orang.

Penelusuran yang kita lakukan bersama di atas memberi kita setidaknya dua hal. Mari kita cermati di bawah ini.

Yang pertama adalah bahwa kata kunci dalam memaknai peribahasa ini adalah pengalaman. Setiap pengalaman merepresentasikan kekayaan atau khazanah kata bijak yang diperoleh berkat persinggungan langsung dan intens dengan berbagai tantangan hidup. Konsekuensinya, kematangan pribadi rupanya mencerminkan akulumasi pematangan multi dimensi di setiap tahapan atau fase tumbuh kembang anak hingga kematian menjemput di penghujung waktu.

Yang kedua bahkan lebih penting lagi. Sesuatu baru boleh disebut pengalaman ketika usai direfleksi. Setiap hati kita mengalami banyak peristiwa, benak kita dilintasi jutaan pikiran, ingatan, emosi dan kehendak. Ada berapa yang kita tangkap atau jaring guna ditinjau secara mendalam sehingga sati pati kebijaksanaan, mutiara cinta sang kehidupan, di dalamnya menetes bahkan mengucur keluar?

Akan tetapi, ada komplikasi serius. Satu peristiwa bisa direfleksi dengan tak terbatas pendekatan dan berakhir pada kemungkinan pemahaman tanpa batas.
Selain itu, ternyata, secara empiris, memori manusia itu sebenarnya tidak stabil. Artinya dalam perjalanan waktu, banyak aspek dari sebuah peristiwa entah mengalami penambahan, pengurangan, pemenggalan, penurunan makna, dan sebagainya.

Di satu sisi, pola memori di atas memungkinkan seseorang untuk terus belajar dan merefleksi ulang. Dalam kasus terapi yang saya lakukan terhadap klien yang terluka emosional, misalnya, pengalaman traumatis dimungkinkan untuk diubah makna atau referensinya sehingga memungkinkan penyembuhan bathin baik secara klinis maupun spiritual.


Di sisi lain, self-deceit alias penipuan diri sangat mungkin terjadi. Orang atau klien dengan mudah menutup-nutupi fakta diri atau kesalahannya dengan menjustifikasi karena sejumlah hal sudah dipangkas sementara sejumlah hal baru yang sama sekali tak faktual dalam peristiwa yang direfleksikan itu justru jadi dijadikan rujukan, ukuran dan pegangan.


Sebagai terapis, saya dipaksa melayani sebuah pertanyaan yang sangat mendesak. Pemahaman mana yang harus dipercaya? Jawaban yang kita berikan adalah pertaruhan akan otensitas diri: apakah benar-benar telah banyak makan asam garam kehidupan atau mengapung diseret arus dunia?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kata Bijak Dalam Peribahasa ‘Makan Asam Garam Kehidupan’"

Post a Comment